Peribadatan Galungan di Pura Giri Natha Semarang

lihatfoto.com (Semarang) – Umat Hindu membawa sesajen saat melakukan persembahyangan bersama Hari Raya Galungan di Pura Agung Giri Natha Semarang. Umat Hindu melakukan persembahyangan untuk merayakan Hari Raya Galungan yang merupakan hari kemenangan kebenaran (Dharma) atas kejahatan (Adharma).

Ruang spiritual Hindu tetap hidup, khusyuk, dan menjadi bagian dari potret toleransi di tengah kemajemukan Kota Semarang.

Wangi harum kepulan dupa langsung menyapa siapa saja yang melintasi kelokan Jalan Sumbing Nomor 12, Kelurahan Bendungan, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, Rabu,17 Juni 2026 malam. Di puncak bukit kecil yang membelah pusat kota itu, lampion-lampion temaram menuntun langkah ratusan umat Hindu menuju Pura Agung Giri Natha. Malam itu, mereka datang untuk merajut harmoni dalam khusyuknya persembahyangan Hari Raya Galungan.

.

Di saat sebagian besar wilayah Indonesia bagian tengah telah merampungkan ritual sejak pagi, umat Hindu di Ibu Kota Jawa Tengah ini justru menjemput esensi Galungan saat sang surya telah kembali ke peraduannya. Tepat pukul 19.00 WIB, ketika udara malam Semarang mulai mendingin, bait-bait mantra suci mulai dilantunkan.

.

Pilihan waktu persembahyangan pada malam hari seolah memberikan pembatas yang tegas. Ia memberi ruang bagi umat untuk melepas sejenak penat dan hiruk-pikuk keduniawian, lalu menggantinya dengan keheningan yang intim antara manusia dan Sang Pencipta.

 

Sejak petang, pelataran telah dipenuhi jemaah yang datang berkelompok maupun berpasangan. Sesuai dengan tradisi yang dijaga, mereka hadir dalam balutan pakaian adat Hindu yang bersahaja. Para pria mengenakan udeng (ikat kepala) dan kain kamen, sementara para wanita tampak anggun mengenakan kebaya dengan selendang yang terikat rapi di pinggang. Bagi mereka, busana ini bukan sekadar formalitas adat, melainkan simbol kesiapan lahir dan batin untuk merayakan kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (keburukan).

Lihat Juga:  Pameran Seni Airlangga Satryatama Wisnumurti di di Tan Art Space semarang
.

“Suasananya sangat menyentuh. Duduk bersila di sini, mendengarkan lantunan kidung suci di tengah semilir angin malam, membawa kedamaian yang sulit digambarkan setelah seharian bekerja,” ujar Wayan (42), salah satu warga yang datang memboyong keluarga kecilnya dari pinggiran kota.

Perubahan zaman juga direspons dengan adaptif oleh pengelola tempat suci ini. Untuk memfasilitasi umat yang ingin melihat kembali dokumentasi prosesi atau mencari tahu rangkaian upacara lanjutan di hari-hari mendatang, pihak pengelola memanfaatkan ruang digital. Informasi berkala dialirkan melalui akun Instagram resmi Pura Agung Giri Natha, menjadikan media sosial sebagai jembatan syiar kedamaian yang melintasi batas fisik.

Perubahan zaman juga direspons dengan adaptif oleh pengelola tempat suci ini. Untuk memfasilitasi umat yang ingin melihat kembali dokumentasi prosesi atau mencari tahu rangkaian upacara lanjutan di hari-hari mendatang, pihak pengelola memanfaatkan ruang digital. Informasi berkala dialirkan melalui akun Instagram resmi Pura Agung Giri Natha, menjadikan media sosial sebagai jembatan syiar kedamaian yang melintasi batas fisik.

 

Ketika malam semakin larut, suara genta perlahan mereda dan dupa-dupa telah memendek menjadi abu. Satu per satu umat melangkah turun menyusuri tangga pura dengan raut wajah yang lebih tenang. Dari sudut sunyi Gajahmungkur malam itu, esensi Galungan tidak sekadar diperingati sebagai narasi sejarah, melainkan dihidupkan kembali di dalam sanubari setiap insan yang bersujud.

Lihat Juga:  Kirab Budaya Mata Air di Kampung Kalilangse Semarang

lihatfoto.com

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!