Cerita Penyintas Perang Dunia II di Ereveld Kalibanteng Semarang
lihatfoto.com (Semarang) – Deretan nisan putih di Ereveld Kalibanteng, Semarang, menyimpan memori kelam Perang Dunia II (1939–1945) dan Revolusi Nasional (1945–1949). Lebih dari 3.000 korban militer dan sipil dimakamkan di sini, yang didominasi oleh makam perempuan serta anak-anak.

Dalam kegiatan Untold Stories of World War II garapan Yayasan Makam Kehormatan Belanda (OGS) dan Klub Merby, Rabu (2/9/2026), penyintas perang Inge Dümpel (84) membagikan trauma masa kecilnya.

Baru berusia lima tahun saat perang berkecamuk, Inge dan keluarganya terpaksa berpindah rumah hingga 19 kali dari Surabaya, Malang, hingga Lawang demi menghindari kejaran serdadu Jepang.
“Selalu ada perasaan mau pergi lagi. I want to move,” kenang Inge.

Trauma ketakutan dan rasa tidak aman itu menetap hingga ia lansia. Meski puluhan tahun tinggal di Eropa, Inge mengaku sulit merasa terikat pada suatu tempat karena dorongan untuk selalu siap mengemas barang.

Tak hanya mengancam nyawa, perang juga merenggut hak pendidikan dan masa kecilnya. Ketika bertemu kembali dengan ayahnya pada 1946, sang ayah sengaja memintanya mengulang kelas satu sekolah dasar agar Inge bisa merasakan kembali indahnya bermain.

Manajer Klub Merby Krisna Piastika menegaskan, kegiatan ini bertujuan mengajak masyarakat melihat sejarah dari sudut pandang kemanian, bukan sekadar strategi militer. Melalui kisah Inge di antara ribuan nisan Kalibanteng, sejarah hadir sebagai pengingat nyata akan pentingnya merawat perdamaian.
lihatfoto.com
