lihatfoto.comĀ (Semarang) – Airlangga Satryatama Wisnumurti, atau Angga, adalah contoh nyata bahwa keterbatasan tidak harus menjadi penghalang untuk mengekspresikan diri. Melalui pameran tunggalnya “Unspoken” di Tan Art Space, Kawasan Papandayan Semarang, (25-31 Maret 2026), Angga menunjukkan bahwa bahasa visual dapat melampaui kata-kata.***
Dalam pameran ini, fakta tidak hanya dipahami sebagai data, melainkan sebagai pengalaman yang dirasakan secara mendalam. Imajinasi pun tidak menjadi pelarian, melainkan medium untuk mengungkapkan hal-hal yang selama ini tak terucapkan. Setiap karya tampil dengan komposisi padat dan detail, mencerminkan cara Angga memproses informasi dari dunia sekitarnya.Angga, yang terlahir dengan disleksia dan hiperaktif, menemukan kekuatan dalam melukis. Awalnya, melukis adalah bagian dari terapi, namun kini menjadi passion yang membawanya ke panggung seni. “Unspoken” adalah ruang bagi hal-hal yang tidak tersampaikan, menghadirkan dialog yang lahir dari kejujuran seniman dalam menangkap hiruk-pikuk kehidupan.Angga, yang terlahir dengan disleksia dan hiperaktif, menemukan kekuatan dalam melukis. Awalnya, melukis adalah bagian dari terapi, namun kini menjadi passion yang membawanya ke panggung seni. “Unspoken” adalah ruang bagi hal-hal yang tidak tersampaikan, menghadirkan dialog yang lahir dari kejujuran seniman dalam menangkap hiruk-pikuk kehidupan.Pameran “Unspoken” adalah langkah Angga untuk memperkenalkan karyanya ke publik yang lebih luas. Sebagai mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Unnes, Angga telah menunjukkan kemampuan artistik yang luar biasa. “Karya Angga memiliki potensi besar,” kata Ratih Ayu Pratiwinindya, Koordinator Program Studi Pendidikan Seni Rupa FBS Unnes.Melalui “Unspoken”, Angga membuktikan bahwa setiap keterbatasan bisa menemukan jalannya sendiri untuk berbicara, akan tetapi juga menghadirkan cara lain dalam memahami dunia, bahwa setiap keterbatasan bisa menemukan jalannya sendiriSetiap karya tampil dengan komposisi padat dan detail, mencerminkan cara Angga memproses informasi dari dunia sekitarnya. Warna-warna kontras yang digunakan menghadirkan kesan ramah, sekaligus mengajak publik masuk ke dalam narasi visual yang kompleks.Ibunda Angga, Sri Purwanti, mengungkapkan bahwa ketertarikan anaknya terhadap seni lukis semakin terlihat dari tahun ke tahun. Teknik pewarnaan dan penguasaan media yang terus berkembang menjadi bukti keseriusannya dalam berkarya. Bahkan, beberapa karya Angga telah berhasil terjual dalam pameran sebelumnya, menjadi motivasi tersendiri untuk terus berkarya.Perjalanan tersebut juga didukung melalui pembelajaran di Klub Merby serta pengalaman berkarya di HOKG Studio. Pameran āāUnspokenāā menjadi pameran tunggal kedua setelah sebelumnya digelar di lingkungan internal Klub Merby, sekaligus langkah untuk memperkenalkan karya Angga ke publik yang lebih luas.Sejak usia empat tahun, Angga didorong untuk bereksplorasi dan menemukan karakter visualnya sendiri. Pendekatan tersebut membuahkan hasil. Selain kemampuan artistik yang berkembang, Angga juga menunjukkan peningkatan dalam komunikasi dan interaksi sosial. Karya-karyanya pun lahir dari cerita-cerita yang dia bangun sendiri, menjadi medium untuk menyalurkan ide yang sulit diungkapkan melalui kata-kata.