lihatfoto.com (Semarang) – Gema takbir bersahut-sahutan terdengar tipis dari jauh saat pagi menyapa di pusat Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (27 Mei 2026). Di bawah siraman cahaya fajar yang perlahan menyembul, halaman dalam kompleks bangunan megah berarsitektur kolonial, Lawang Sewu, tampak tak biasa. Ribuan lembar sajadah terhampar rapi, mendudukkan barisan jemaah yang bersiap menyambut kemenangan dalam kekhidmatan Shalat Idul Adha 1447 Hijriah.***
Umat Islam melaksanakan Shalat Idul Adha 1447 Hijriah di halaman gedung cagar budaya Lawang Sewu Semarang. KAI Wisata kembali menggelar Shalat Idul Adha di bangunan cagar budaya peninggalan kolonial Belanda tersebut sebagai upaya untuk peduli pelestarian kawasan heritage dan meningkatkan kunjungan wisatawan selama liburan Hari Raya Kurban 2026.Bagi warga Semarang dan para pelancong, beribadah di antara kepungan pilar-pilar kokoh dan ratusan pintu ikonik peninggalan masa Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) ini menghadirkan sensasi spritual yang berbeda. Ada jalinan harmoni yang magis ketika untaian doa dan asma Allah bergaung, memantul di dinding-dinding cagar budaya yang telah berdiri kokoh melintasi zaman.Langkah KAI Wisata kembali membuka pintu halaman Lawang Sewu sebagai ruang shalat id bukan tanpa alasan. Di balik deretan saf yang rapi, ada misi besar yang sedang dirajut. Kegiatan ini menjadi jembatan spiritual untuk memperkuat nilai silaturahim, kebersamaan, dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian kawasan heritage.Melalui atmosfer sejarah yang kental, jemaah seolah diajak menyelami makna pengorbanan Idul Adha, sekaligus merefleksikan pentingnya menjaga warisan masa lalu untuk generasi masa depan. “Melaksanakan shalat di sini memberikan rasa syukur yang berlipat. Kita tidak hanya beribadah, tetapi juga diajak mengagumi dan merawat benang merah sejarah yang ada di kota ini,” ujar Dwiseno (42), salah satu warga erlangga yang hadir sejak pukul 05.30 WIBKeputusan memanfaatkan bangunan cagar budaya ini juga terbukti menjadi strategi jitu dalam mendongkrak denyut pariwisata daerah. Libur Hari Raya Kurban 2026 kali ini dimanfaatkan dengan apik untuk mengemas wisata religi yang edukatif.Begitu salam terakhir diucapkan dan khotbah usai disampaikan, halaman Lawang Sewu tidak langsung sepi. Banyak jemaah yang memilih bertahan, bersalam-salaman saling memaafkan, lalu mengabadikan momen langka tersebut dengan latar belakang kemegahan gedung tua yang estetik.Kombinasi antara kesakralan ibadah dan pesona wisata sejarah ini sukses memikat arus kunjungan wisatawan. Lawang Sewu pagi itu tidak lagi identik dengan kesan mistis masa lalu yang kelam, melainkan menjelma menjadi ruang publik yang hangat, penuh toleransi, dan sarat akan nilai-nilai kebersamaan