Saparan Gogik 2026, Harmoni Alam di Lereng Andong

lihatfoto.com (Kabupaten Magelang) – Udara dingin menyelimuti lereng pegunungan Dusun Gogik, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (2/8/2026). Namun, dinginnya pagi tak mampu meredam kehangatan warga yang berbondong-bondong memenuhi jalan desa.

Ratusan tumpeng tersusun rapi. Gunungan berisi sayuran dan buah hasil bumi menjulang di antara kerumunan warga. Di tengah suasana itu, sejumlah fragmen kehidupan masa lalu kembali ditampilkan. Seolah-olah warga sedang membuka kembali album lama yang nyaris terlupakan.

Hari itu merupakan puncak Saparan Gogik 2026. Mengusung tema “Nandur Tradisi, Ngunduh Pakarti”, tradisi tahunan tersebut tidak sekadar menjadi perayaan budaya. Warga menjadikannya sebagai ruang untuk menanam kembali nilai-nilai yang diwariskan leluhur dan memetiknya dalam bentuk budi pekerti generasi penerus.

Bagi masyarakat Gogik, tradisi bukan benda masa lalu yang cukup disimpan dalam ingatan. Tradisi harus dirawat agar tetap hidup dan mampu menjawab perubahan zaman.

Semangat itu terlihat dalam Kirab Budaya yang menjadi bagian penting Saparan Gogik tahun ini. Warga menampilkan potongan kehidupan desa tempo dulu yang lekat dengan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.

Lima fragmen ditampilkan dalam kirab. Ada pawetu, gunungan hasil bumi berupa sayuran dan buah-buahan khas lereng gunung. Ada pula pangon, yang menggambarkan kehidupan para peternak.

Fragmen sunggen memperlihatkan kebiasaan warga membawa kayu bakar hingga air dengan cara menjunjungnya di atas kepala. Sementara pawon menggambarkan dapur sebagai pusat kehidupan dan pangan keluarga.

Lihat Juga:  Kidung Waisak 2570 BE di Vihara Mahavira Graha SemarangSemarang

Fragmen terakhir adalah dolanan. Anak-anak bermain permainan tradisional, sebuah pemandangan yang kini semakin jarang terlihat ketika gawai dan media sosial menjadi bagian dari keseharian.

Wakil Ketua Panitia Sadranan Gogik, Rian Setiabudi, mengatakan kirab tersebut sengaja dirancang untuk membangkitkan kembali ingatan kolektif masyarakat.

“Saparan tahun ini kami mencoba mengulang memori-memori lama yang mulai terlupakan. Di era media sosial dan globalisasi, kita kerap mengabaikan warisan leluhur yang sebenarnya menjadi akar identitas,” ujar Rian.

Menurut dia, pawetu, pangon, sunggen, pawon, dan dolanan bukan sekadar tontonan dalam kirab. Kelima fragmen itu menjadi cara warga mengenalkan kembali kehidupan leluhur kepada generasi muda.

Kemunculan ratusan tumpeng pada puncak acara bukanlah awal dari Saparan Gogik. Sejak beberapa hari sebelumnya, warga telah menjalani rangkaian ritual yang sarat makna spiritual.

Rangkaian dimulai dengan malam tirakatan pada Kamis Pon. Sehari kemudian, warga melaksanakan Bersih Sarean atau membersihkan makam leluhur pada Jumat Wage.

Pada Minggu pagi, warga melanjutkan prosesi dengan Nyebar Sajen di tujuh mata air yang berada di Dusun Gogik.

Dari mata air, prosesi bergerak menuju kirab dan Umbul Dunga, doa bersama yang diikuti warga. Sekitar 300 tumpeng dan ingkung kemudian dibawa dalam rangkaian acara sebelum seluruh warga berkumpul untuk Kembul Bujana, tradisi makan bersama.

Malam harinya, perayaan ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk oleh dalang Ki Yusuf Anshor Ganendra K.

Kepala Dusun Gogik, Rangga, mengatakan inti Saparan tetap berada pada kenduri sebagai ungkapan syukur warga. Kirab dan pertunjukan seni menjadi pelengkap untuk membuat tradisi lebih mudah diterima generasi sekarang.

Lihat Juga:  Klenteng TITD Ling Hok Bio Semarang, Merayakan HUT ke-160 Tahun

“Ingkung, tumpeng, dan gunungan adalah wujud syukur. Sementara fragmen sejarah dihadirkan agar generasi muda paham bagaimana orang tua mereka berjuang sebelum ada modernisasi,” kata Rangga.

Bagi warga Gogik, ritual di tujuh mata air memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar bagian dari rangkaian upacara. Mata air adalah bagian dari kehidupan masyarakat yang sebagian besar menggantungkan penghidupan dari pertanian.

Air menghidupi sawah dan kebun. Hasil bumi kemudian kembali hadir dalam bentuk gunungan dan tumpeng yang diarak dalam Saparan. Di sana, hubungan antara manusia, alam, dan rasa syukur menemukan bentuknya.

Karena itu, merawat mata air pada dasarnya berarti merawat kehidupan.

Saparan Gogik 2026 akhirnya menjadi pertemuan antara masa lalu dan masa kini. Di tengah derasnya perubahan, warga tidak memilih untuk meninggalkan tradisi. Mereka justru membawanya kembali ke ruang publik, memperkenalkannya kepada anak-anak, dan memberinya makna baru.

“Nandur tradisi, ngunduh pakarti” pun bukan sekadar tema perayaan. Ia menjadi pengingat bahwa apa yang ditanam hari ini—nilai, ingatan, gotong royong, rasa syukur, dan kepedulian terhadap alam—kelak akan dipanen oleh generasi berikutnya.

Di lereng Magelang itu, hasil panen rupanya tidak selalu berbentuk sayuran atau buah-buahan. Ada pula sesuatu yang lebih panjang umurnya: ingatan, kebersamaan, dan budi pekerti.

lihatfoto.com

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!