Kirab Budaya Mata Air di Kampung Kalilangse Semarang

lihatfoto.com (Semarang) – Atraksi penari gedrduk buto berpadu dengan suara gamelan dari pengeras suara yang ritmis berpadu dengan sorak-sorai warga .

Bagi masyarakat, kirab budaya ini jauh dari sekadar tontonan atau hiburan tahunan. Warga Kalilangse menyebutnya sebagai tradisi apitan atau sedekah bumi. Sebuah warisan turun-temurun yang menjadi ekspresi rasa syukur sekaligus penghormatan mendalam terhadap alam, khususnya sumber mata  air dan sungai yang telah menghidupi mereka selama puluhan tahun.
Tumpeng hasil bumi diarak perlahan, membelah jalanan kampung yang padat. Di belakangnya, barisan warga melangkah anggun dalam balutan kostum adat Jawa. Hari itu, warga Kalilangse sedang menggelar Kirab Budaya Merti Dusun
Sebuah ikhtiar komunal untuk memastikan akar budaya mereka tidak tercerabut oleh zaman. Di balik kepungan beton dan riuh modernisasi ibu kota Jawa Tengah, sebuah tradisi tua justru sedang menggeliat hidup dan mengundang keramaian di kawasan Kalilangse RW 003, Kelurahan Gajahmungkur Semarang, Minggu (17/5/2026).
Menjelang siang, antusiasme warga tak terbendung. Anak-anak kecil berlarian riang di sela rombongan kirab, sementara para sesepuh duduk khidmat di tepi jalan, melempar senyum penuh rasa syukur.
Atmosfer tradisional kian pekat berkat penampilan memukau kesenian gedruk, tari wira pertiwi, ketoprak, hingga tanjung gemirang dengan kostumnya yang warna-warni. Aroma dupa yang samar berbaur dengan bau tanah basah sisa hujan semalam, menciptakan magis tersendiri yang menyelimuti seluruh penjuru kampung.
Ngadiono, salah satu sesepuh Kalilangse, mengenang kembali memori masa lalu kampungnya. Tradisi ini, menurutnya, sudah mengakar sejak era para leluhur mereka, Mbah Kasminah dan Mbah Watiman. Dahulu, kawasan ini dikenal memiliki tiga punden suci yang menjadi penjaga spiritual sumber air wilayah setempat.
Sebelum modernisasi membawa pipa-pipa air bersih ke dalam rumah, mata air Kalilangse adalah urat nadi kehidupan. Di sanalah warga berkumpul setiap hari untuk mandi, mencuci, dan mengambil air minum.
Kini, meskipun lanskap sekitar telah berubah menjadi permukiman padat tengah kota, keajaiban itu belum mati. Debit air dari mata air purba ini tetap mengalir konstan. Hal inilah yang memicu tanggung jawab moral warga untuk tidak sekadar menikmati hasilnya, tetapi juga merawat eksistensinya.
Nyawa dari Merti Dusun ini adalah gotong royong. Begitu kirab usai, pemandangan mengharukan terlihat ketika sejumlah warga langsung bergerak membersihkan area sekitar sumber air. Beberapa pemuda kampung tampak berjaga di sudut-sudut strategis, memastikan tidak ada selembar sampah pun yang menodai kesucian lokasi kegiatan.
Lurah Gajahmungkur, Pramono, yang hadir dalam acara tersebut menegaskan bahwa Merti Dusun adalah alarm pengingat agar masyarakat tidak amnesia terhadap sejarah kampung halaman sendiri. Lebih dari itu, momentum ini menjadi ruang transisi dan regenerasi budaya yang efektif.
Tradisi apitan Kalilangse yang rutin digelar setiap bulan Zulqaidah dengan penanggalan yang fleksibel sesuai mufakat warga menjadi bukti bahwa modernitas tidak selalu harus mengorbankan tradisi.
Bagi warga Kalilangse, merawat tradisi bukan sekadar perkara menggelar upacara seremonial setahun sekali. Di balik riuh gamelan dan warna-warni kostum, mereka sejatinya sedang merawat ingatan kolektif tentang mata air, menghormati keringat leluhur, dan mengikat kembali tali kebersamaan yang telah menghidupi kampung mereka melintasi zaman.

lihatfoto.com

Bagikan:
Lihat Juga:  Pameran Seni Airlangga Satryatama Wisnumurti di di Tan Art Space semarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!