lihatfoto.com (Semarang) – Ritual tawur kesanga dimulai saat senja mulai turun di halaman Pura Agung Giri Natha Semartang, Rabu (18/3/2026) pukul 17.00. Umat Hindu berdatangan dengan busana adat serba putih. Aroma dupa menguar, berpadu dengan kidung suci yang mengalun pelan. Di tengah suasana sakral itu, upacara Tawur Kesanga digelar, sebuah ritual penting menjelang Hari Raya Nyepi.***
Upacara ini bukan sekadar tradisi tahunan. Melainkan juga momentum penyelarasan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.Ketua Panitia Perayaan Hari Nyepi Kota Semarang, I Dewa Made Artayasa, menjelaskan, Tawur Kesanga merupakan tahapan kedua setelah Melasti yang sebelumnya digelar di Pantai Marina Semarang. “Ini bagian dari upaya mengembalikan sari-sari alam yang telah kita nikmati selama hidup. Kita netralisir kembali, kita harmonisasi agar kehidupan ke depan tetap damai,” ujarnya di sela prosesi.Dalam ritual tersebut, umat menggunakan caru panca warna, ayam putih, merah, kuning, dan hitam, sebagai simbol penyeimbang unsur-unsur negatif di alam semesta. Persembahan itu diyakini sebagai bentuk pengembalian energi yang telah digunakan manusia, agar kembali selaras.Makna mendalam Tawur Kesanga tak lepas dari ajaran Tri Hita Karana, yakni tiga penyebab kebahagiaan. Pertama, keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan. Kedua, hubungan antar sesama manusia. Dan ketiga, hubungan manusia dengan alam.Rangkaian ritual ini menjadi pengantar menuju puncak Hari Raya Nyepi yang dimulai tengah malam. Selama 24 jam, umat Hindu akan menjalankan Catur Brata Penyepian, empat pantangan utama sebagai bentuk introspeksi diri.